Tag Archives: Pra-Nikah

Pernikahan Beda Agama?

Disadur dari www.mantenhouse.com

“Kami pasangan yang ingin menikah, tetapi ada kesulitan dalam pengesahan pernikahan. Kami berbeda agama. Saya muslim, sedangkan calon suami saya pemeluk Kristen. Apa ada tempat yang mengesahkan pernikahan beda agama di Indonesia? Saya dengar, di Bali bisa menikah beda agama secara legal.”  – Andita, 25 tahun, pegawai negeri

Begitu bunyi pertanyaan di salah satu blog yang membahas seputar pernikahan. Sebetulnya, pertanyaan ini memang menjadi pertanyaan banyak orang, khususnya mereka yang awam soal hukum di Indonesia. Banyak informasi beredar di internet. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa pernikahan beda agama dapat dilakukan di Bali dan Batam. Betulkah?

Cuplikan artikel yang dikutip dari situs Balishukawedding.com ini mencoba meluruskan tentang pernikahan beda agama di Indonesia.

Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU 1/1974) menyatakan bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Dan pada Pasal 10 PP No. 9 Tahun 1975 dinyatakan bahwa perkawinan baru sah jika dilakukan di hadapan pegawai pencatat dan dihadiri dua orang saksi. Dan tata cara perkawinan dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Jadi, UU 1/1974 tidak mengenal perkawinan beda agama, sehingga pernikahan beda agama belum bisa DIRESMIKAN di Indonesia.

Nah, kesimpulannya, baik di Batam maupun Bali, atau provinsi mana pun di Indonesia, pernikahan beda agama belum bisa dipandang sah secara hukum.

Tips Memilih Fotografer Pernikahan

Dok: AA Fotografi

Peran fotografer tentu sangat penting untuk mengabadikan momen bahagia Anda. Sayangnya, menemukan juru foto yang tepat bukan hal mudah. Simak sembilan tips berikut ini agar dapat memilih fotografer yang sesuai dengan keiinginan Anda.

1. Pelajari Hasil Fotonya

Ini langkah pertama yang paling penting. Lihat semua contoh-contoh foto dan portfolio album pernikahan yang dia hasilkan. Coba perhatikan apakah angle-angle foto dan hasil akhirnya sesuai dengan selera Anda. Perhatikan juga hal-hal kecil seperti background studio yang digunakan. Sebaiknya fotografer Anda punya background studio untuk foto full body dan menutupi lantai yang Anda injak. Ini penting jika Anda menginginkan foto satu badan penuh hingga kaki. Cek juga apakah sang fotografer punya warna background yang sesuai dengan keinginan Anda.

2. Pilih Fotografer Anda

Beberapa perusahaan memiliki banyak fotografer utama. Jika Anda menyukai salah satu portfolio foto, tanyakan fotografer mana yang menghasilkan karya tersebut. Sebisa mungkin Anda harus mendapatkan fotografer yang hasilnya sesuai dengan selera Anda. Jika Anda ditawari fotografer yang lain, pelajari dulu karya-karyanya. Tidak perlu takut untuk mencari vendor foto lainnya jika fotografer yang Anda inginkan tidak tersedia.

3. Kenali Fotografer Anda

Sebelum hari H, pastikan anda sudah berbicara dengan fotografer yang anda pilih dan pastikan fotografer yang anda pilih dapat diajak kerjasama dengan baik. Beritahu apa yang anda inginkan untuk foto-foto pernikahan Anda, termasuk siapa saja yang ingin Anda abadikan. Jika Anda mempunyai referensi contoh-contoh, tunjukkan kepada fotografer Anda dan tanyakan apakah memungkinkan untuk membuat hal serupa.

4. Pahami Paket yang Ditawarkan

Pastikan Anda memahami apa yang Anda dapatkan di paket foto yang Anda pilih. Hal yang perlu diperhatikan termasuk, berapa lama fotografer akan bekerja (mulai dari prewed sampai hari H), berapa album yang Anda dapatkan, berapa banyak foto studio yang Anda dapatkan, apakah Anda bisa mengajak keluarga dan teman untuk foto studio, serta apa saja yang Anda dapatkan selain album (misalnya foto kanvas atau CD kompilasi foto).

Sebelum menandatangani kontrak, Anda dan fotografer harus sepakat terhadap hal-hal tersebut untuk menghindari perselisihan di masa datang. Dengan sama-sama memahami hak dan kewajiban masing-masing semua pihak akan bisa merasa lebih puas.

5. Kenali Biaya Lainnya

Selain harga paket, adakah biaya lain yang akan dibebankan kepada Anda. Budget memang hal yang sensitif dalam merencanakan pernikahan. Karena itu, jangan sampai Anda overbudget akibat kurang teliti dalam memeriksa detail kontrak.

Beberapa fotografer juga bisa menawarkan paket ‘upgrade’ dengan beberapa nilai lebih. Jika masih sesuai budget tak ada salahnya menanyakan tentang hal ini. Momen pernikahan seumur hidup sekali tentunya pantas mendapatkan dokumentasi yang baik.

6. Tandatangani Kontrak

Sangat disarankan ada kontrak tertulis yang memuat kesepakatan antara Anda dan sang fotografer. Baca dulu baik–baik kontrak yang ada, bandingkan dengan kontrak perusahaan lain sebelum anda menandatangani kontrak tersebut jika memungkinkan. Pastikan semua keinginan Anda tertulis di kontrak untuk menghindari perselisihan di kemudian hari.

7. Waktu Penyelesaian

Beberapa perusahaan memberikkan hasil fotonya lebih cepat dengan yang lain. Pastikan anda juga membandingkan hal ini.

8. Alat–alat yang Digunakan

Jika Anda mengerti tentang dunia fotografi, tak ada salahnya menanyakan detail-detail teknis seperti apa alat yang digunakan. Jika Anda awam dengan hal-hal tersebut, amati saja dengan detail portfolionya. Apakah hasil fotonya cukup tajam, warna yang dihasilkan cukup baik, dan pencahayaannya bisa membuat gambar yang diambil lebih bagus.

9. Pertimbangkan Juga Dokumentasi Video

Biasanya fotografer menawarkan satu paket dengan dokumentasi video. Lihat juga hasil karya videonya selama ini. Bicarakan juga video apa yang Anda harapkan untuk mengetahui apakah si vendor sanggup melakukannya. Jika Anda memilih vendor yang sama dengan foto, usahakan untuk meminta harga spesial untuk pemesanan paket foto dan video. Jika Anda harus memilih vendor lain, tentukan bersama pasangan, mana yang lebih penting. Foto atau video. Di vendor yang mana Anda bersedia untuk menghabiskan porsi budget lebih.

(fta/eya)

sumber: wolipop.com

Tips Mempersiapkan Dana Pernikahan

Financial Planning for Wedding
Foto: mmcfm.com

Setiap pasangan tentu ingin membuat pernikahan mereka berkesan tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga tamu undangan. Untuk membuat pesta pernikahan yang berkesan tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Pasangan yang memang berencana membawa asmara mereka ke jenjang pernikahan sebaiknya menyiapkan jauh-jauh hari dana untuk pestanya. Hal ini agar Anda dan si dia tidak pusing dan malah memilih berutang demi membuat pesta yang berkesan.

Bagaimana caranya membuat perencanaan dana pernikahan? Berikut ini tipsnya dari Mohammad B. Teguh, Indipendent Financial Planer yang bekerja di Quantum Magna Financial saat berbincang dengan Wolipop di Hotel Bidakara:

1. Persiapakan dana pernikahan sejak jauh-jauh hari. Minimal dana tersebut disiapkan sejak 2 tahun sebelum Anda ingin menikah. Misalnya Anda akan menikah pada 2013, dana pernikahan harus disiapkan dari sekarang.

2. Tentukan budget yang akan digunakan dan kapan dana akan digunakan. Dalam hal ini Anda harus mendapatkan angka pasti agar perencanaan keuangan menjadi jelas.

3. Tentukan besarnya investasi bulanan yang diperlukan untuk mencapai dana tersebut dan apa produk investasi yang tepat untuk mencapainya. Misalnya budget pernikahan Anda yang sudah disesuaikan inflasi Rp 500 juta. Sesuai kompromi dengan pasangan, Anda membagi dua dana tersebut. Setelah tahu berapa dana yang harus dimiliki, pilih produk investasinya. Tabungan bukanlah cara yang direkomendasikan untuk mencapai dana pernikahan Anda. Pilih produk investasi seperti reksadana atau emas jika ingin mendapatkan nilai investasi yang lebih baik.

4. Pastikan di tabungan tersisa saldo minimal 4X pengeluaran bulanan untuk hidup berdua dengan pasangan setelah menikah.

5. Tentukan segala detail pernikahan Anda agar mendapat angka dana pernikahan yang pasti mulai dari gaya pernikahan, lokasi, berapa jumlah undangan, dan lain-lain.

6. Jangan sekali-sekali mengharapkan jumlah angpau. Belum tentu angpau yang diterima bisa mengembalikan dana pernikahan yang sudah dikeluarkan. Anggap saja angpau sebagai bonus.

 

Sumber: wolipop.com

Perjanjian Pra Nikah: Tak Melulu Soal Materi

Hm… siapa bilang perjanjian pranikah harus selalu menyangkut harta gono-gini? Untuk kita, ada 4 jenis perjanjian yang bisa dibuat ketika Anda berencana menikah dengan pasangan. Perjanjian ini sebaiknya memang disepakati sebelum Anda menikah, karena bila Anda menunggu setelah menikah dan terjadi konflik antara Anda dan pasangan, bisa jadi akan lebih sulit untuk mencari jalan keluarnya. Lebih baik melakukan pencegahan sebelum terjadi musibah, bukan? Nah, ini dia yang perlu Anda diskusikan dengan pasangan. Tentu saja, tidak menutup kemungkinan bila Anda dan pasangan memiliki perjanjian lain di luar yang disebutkan di bawah ini.

Siapa yang mengelola keuangan? 
Jika Anda memasuki suatu hubungan perkawinan dengan pengelolaan uang yang kacau, tak lama lagi Anda akan menghadapi argumentasi yang terus-menerus dengan pasangan. Topiknya, “Kamu beli apa lagi?” atau “Kamu investasi berapa di situ?”. Selanjutnya, Anda akan terus bertengkar mengenai siapa yang bersalah sehingga Anda tidak dapat membayar tagihan-tagihan atau menabung.

Taffy Wagner, pakar finansial dan CEO of MoneyTalkMatters.com, menyarankan agar pasangan berbicara jujur mengenai kondisi keuangan sejak awal. “Tanyakan satu sama lain: bagaimana Anda mengelola keuangan ketika Anda masih lajang? Apa kesalahan-kesalahan yang pernah Anda buat, dan apa langkah-langkah Anda yang tepat?” Kemudian, tentukan siapa yang akan menjadi “bendahara” utamanya. Sebagai bendahara rumah tangga, Anda tak bisa mengambil langkah diam-diam. Selalu libatkan pasangan dalam langkah-langkah yang akan Anda ambil. 

Agama apa yang akan dianut?
Pertanyaan ini penting untuk pasangan yang berbeda keyakinan. Sungguh tidak mudah membahas masalah ini, karena menyangkut iman seseorang kepada Yang di Atas, bukan? Perbedaan itu mungkin tidak begitu penting di antara Anda dan pasangan, namun belum tentu tidak penting untuk keluarga besar masing-masing. Kemudian, bagaimana kelak bila memiliki anak? Apakah Anda akan mendidik anak sesuai keyakinan Anda, atau keyakinan suami?

Yang perlu Anda ingat, tidak ada agama yang mengajarkan kita untuk memaksakan orang lain mengikuti agama kita. Bila salah satu memutuskan untuk mengubah keyakinannya, pastikan bahwa hal itu merupakan keinginan dan keputusannya sendiri. Bila si dia, misalnya, adalah pria yang menganut ajarannya dengan taat dan hal ini tercermin dalam perilakunya sehari-hari, untuk apa memintanya mengikuti keyakinan kita? 

Kapan kita akan memiliki anak? 
Di Indonesia sudah mulai ada pasangan yang sepakat untuk tidak memiliki anak. Boleh saja jika keputusan ini disepakati kedua belah pihak. Namun bila Anda dan pasangan berencana mempunyai anak pun, tetap harus didiskusikan kapan rencana ini akan dilaksanakan. Anda mungkin tak akan tahu bahwa pasangan ternyata belum siap. Menurut Susan Piver, penulis The Hard Questions: 100 Essential Questions to Ask Before You Say “I Do”, ternyata
banyak pasangan yang tak mendiskusikan hal ini. “Mereka baru mengetahui belakangan, entah salah satu tidak ingin memiliki anak, atau tidak mempunyai rencana waktu yang sama.”

Topik mengenai anak bukanlah sesuatu yang mudah disampaikan. Karena itu Piver menyarankan agar pasangan membicarakannya ketika sedang santai dan siap berdialog. Bila menyangkut kapan akan hamil, mintalah alasan pasangan mengapa masih ingin menunda kehamilan, atau mengapa ingin segera melaksanakannya. Pastikan bahwa tujuan dialog ini untuk menyampaikan pandangan Anda, bukan memenangkan argumentasi.

Kehidupan seks seperti apa yang Anda inginkan?

Seks adalah hal yang penting dalam perkawinan, meskipun bukan yang terpenting. Suami mungkin tak akan protes bila Anda selalu mengeluh kelelahan atau tidak mood, namun, Anda tak akan tahu bagaimana reaksinya dengan penolakan tersebut. Sejak awal perkawinan, Anda harus membicarakan hal ini dengan suami. Bila salah satu dari Anda mempunyai harapan yang berbeda dalam masalah seks, apa yang harus dilakukan. 

Untuk mengangkat masalah ini, Anda bisa mulai dari hal yang paling sederhana. Pentingkah untuk selalu bersikap mesra dengan pasangan? Setelah itu, berikan usul seperti, “Kita harus gandengan tangan terus meskipun anak-anak kita sudah besar-besar.” Atau, cium suami setiap kali ia akan berangkat ke kantor. Jangan lupa, cinta itu harus selalu dirawat agar tetap tumbuh segar.

Anda sendiri, adakah perjanjian khusus yang dilakukan dengan suami saat menikah?


DIN

Sumber: WomansDay | www.Kompas.Com

Sensitifitas Perjanjian Pra Nikah

Pertautan dua hati untuk selamanya tak hanya diikrarkan di depan Yang Mahakuasa saat akad atau pemberkatan nikah. Fenomena baru muncul, perjanjian antara dua orang yang akan hidup bersatu dimulai sebelum pernikahan berlangsung, yang biasa dikenal dengan perjanjian pra-nikah.

Di Indonesia, isu ini boleh dibilang masih sangat sensitif. Pihak yang mengajukan kerap dianggap menebar bibit keraguan terhadap pasangannya. Dianggap terlalu skeptis, pesimis, dan perhitungan soal kekayaan.

Pandangan itu memang sulit ditepis, terutama karena perjanjian pra-nikah biasanya dibuat untuk kepentingan perlindungan hukum terhadap harta bawaan masing-masing pihak. Hal ini kian banyak dilakukan, mengingat tak bisa dipungkiri angka perceraian kian naik dan tak sedikit di antaranya yang direpotkan oleh masalah pembagian harta bersama.

Hal ini pun sebaiknya disikapi dingin. Jika tak ingin hubungan yang dibina berakhir bencana, membicarakan hal ini dengan pasangan jauh-jauh hari sebelum pernikahan sangatlah penting. Komunikasikan secara terbuka dan diskusikan pandangan masing-masing demi mendapatkan perjanjian yang disetujui dan dilakukan dengan rela oleh kedua belah pihak.

Di dalamnya biasanya memuat pemisahan harta kekayaan antara suami dan istri. Perjanjian ini pun ada dua jenis, ada yang pemisahan harta murni, berarti kedua pihak sepakat untuk memisahkan segala macam harta, utang, dan penghasilan yang diperoleh, baik sebelum maupun sesudah menikah. Ada pula yang hanya memisahkan harta, utang, dan penghasilan yang dimiliki masing-masing pihak sebelum menikah. Sementara harta, utang dan penghasilan yang didapat setelah menikah menjadi milik bersama.

Di dalamnya pun dapat termuat pengaturan biaya hidup dan pendidikan anak, demi kesejahteraan anak.

Yang tidak boleh lupa, perjanjian ini harus dibuat sebelum menikah dan disahkan oleh notaris, serta dicatatkan pada lembaga pencatatan perkawinan.

Perjanjian pra-nikah ini pun tidak bersifat baku. Setiap pasangan bisa saja memperbaharui, misalnya setelah 10 tahun pernikahan, dengan dilandasi pertimbangan matang dan mencari solusi yang lebih baik untuk kepentingan berdua.

(ADT/Kompas Klasika)

Sumber: www.kompas.com

Mengemas Konsep Foto Pre Wedding

Penting, tidak penting. Pandangan kontradiktif ini kerap kali mengiringi konsep foto pre wedding yang kian banyak dilakukan oleh pasangan yang akan mengekalkan diri dalam komitmen abadi.

Masing-masing punya alasan tersendiri untuk melakukannya ataupun tidak. Yang jelas, foto pre wedding ini butuh persiapan yang tidak kalah matang dibandingkan persiapan pernikahan lainnya.

Yang utama adalah mencari konsep yang tepat untuk menjadi “jiwa” dari setiap bidikan foto pre wedding. Semakin hari, ide atau tema untuk foto pre wedding kian beragam. Ada yang bercerita mengenai kegiatan pacaran sehari-hari, menuturkan kisah dari awal hubungan hingga akhirnya berkencan, atau membuat cerita unik dan lucu.

Hal tersebut akan menentukan pemilihan lokasi pemotretan, apakah ingin berada di dalam kota dengan suasana urban, di tengah alam yang cantik, atau cukup di dalam studio.

Di sisi lain, properti yang akan ditampilkan dalam foto juga perlu diperhatikan dengan baik. Dalam hal ini menyangkut pemilihan kostum, maupun benda-benda lainnya yang mampu memperkuat cerita. Misalnya dengan benda-benda yang memiliki kenangan bersama atau benda-benda yang menjadi cerminan karakter diri masing-masing calon mempelai.

Sebuah foto pre wedding memang selayaknya tidak hanya menampilkan kemesraan sepasang calon mempelai, namun mampu bercerita atau mengungkapkan sisi lain tanpa lewat kata-kata.

Dalam hal ini kemahiran sang fotografer dalam menangkap sisi-sisi emosional kedua pasangan sangatlah dibutuhkan. Dengan demikian, sebuah foto sederhana pun bisa terlihat begitu indah karena memancarkan nuansa emosional yang kuat.

Tentu saja, untuk mendapatkan gambaran ideal tersebut, segalanya harus dikomunikasikan secara detail pada calon fotografer. Akan lebih baik jika Anda dan pasangan pun membawa ide untuk digodok bersama, meski tidak jarang, ide-ide unik dari fotografer juga bisa menjadi bahan pertimbangan.

Di sisi lain, konsep foto hingga proses edit yang diinginkan itu menjadi salah satu cara mudah untuk memilih fotografer yang paling tepat. Agar konsep tersebut bisa dieksekusi dengan sempurna, sebaiknya disesuaikan dengan gaya, selera, serta keahlian sang fotografer.


(ADT/Kompas Klasika)

Editor: Nadia Felicia

Sumber: Kompas Klasika

Perlukah Perjanjian Pra Nikah ?

Di Indonesia, perjanjian pranikah kurang dikenal di kalangan masyarakat, sehingga tak banyak yang melakukannya. Faktor budaya jadi salah satu penyebab utama.

Lalu, apa, sih, sebetulnya perjanjian pranikah? Menurut M. Muslih, SH, MH, pengacara dari kantor Law Office of M. Muslih & Partners, Jakarta, perjanjian pranikah adalah perjanjian tentang harta bersama (pemisahan harta, harta bawaan dijadikan harta bersama, dan pencampuran harta ) yang dibuat kedua calon mempelai sebelum pernikahan terjadi.

Misalnya, papar Muslih, dalam pemisahan harta, harta yang dihasilkan selama menjadi suami-istri akan tetap jadi milik masing-masing, tetapi suami tetap memberi nafkah kepada istri.

TAKLIK TALAK
Perjanjian pranikah juga bisa berupa taklik talak. Isi taklik talak, menurut Muslih, jika suami memukul istrinya atau melakukan tindak pidana sampai dihukum penjara selama lima tahun, atau tidak memberi nafkah lahir batin selama tiga bulan berturut-turut, maka istri boleh mengajukan taklik talak itu ke Pengadilan Agama.

Selain soal harta, larangan untuk berselingkuh atau melakukan kekerasan fisik terhadap pasangan, misalnya, bisa juga ditambahkan di dalam perjanjian pranikah.

Muslih menyarankan untuk membuat perjanjian pranikah agar ketika terjadi perceraian, proses cerai tidak akan rumit atau makan waktu.

MELINDUNGI HARTA
Apa sebenarnya tujuan dibuatnya perjanjian pranikah? Menurut Muslih, untuk melindungi harta masing-masing pihak, baik suami maupun istri. Perlindungan ini untuk mengantisipasi bila kelak salah satu pihak melakukan hal-hal negatif, misalnya pemborosan akibat berselingkuh, punya utang, atau berjudi.

Meski perjanjian pranikah bisa melindungi masing-masing pihak, keputusan untuk membuatnya memang harus disetujui kedua belah pihak.

KESEPAKATAN BERDUA
Ketika kedua belah pihak sudah setuju dan membuat isinya, perjanjian itu selanjutnya ditandatangani berdua di depan notaris, kemudian diberitahukan ke KUA, tergantung dari agama yang dianut pasangan.

“Bila salah satu pihak melanggar perjanjian, dia bisa dihukum oleh pengadilan. Isi hukumannya sendiri bisa dimasukkan ke dalam materi perjanjian,” tutur Muslih.

BISAKAH DIBATALKAN?
Dalam perjalanannya, perjanjian pranikah bisa dibatalkan, kecuali yang berisi taklik talak. Bila ingin membatalkan perjanjian, keduanya harus menyatakan pembatalan itu, dan mencabutnya di kantor tempat mereka mencatatkannya.

Muslih juga menambahkan, perjanjian pranikah bisa diubah dan ditambahkan isinya asalkan atas kesepakatan kedua belah pihak.

 

Sumber: www.kompas.com

Foto by Getty Images

Pre Wedding Dalam Dunia Fotografi

Istilah fotografi pre wedding punya kesalahan bahasa yang parah. Kata pertamanya memakai bahasa Indonesia, tetapi kata-kata selanjutnya memakai bahasa Inggris. Kalau akan dibuat benar secara tata bahasa, yaitu pre wedding photography, ini justru kesalahan yang makin salah. Fotografer selain di Indonesia akan bingung pada istilah tersebut sebab itu memang sebuah kegiatan fotografi yang tidak lazim.

Fotografi pre wedding muncul di Indonesia dan sampai saat ini hanya lazim di masyarakat Indonesia. Fotografi prewed (begitu biasa disebut) terjadi karena kebiasaan di sini yang “melebarkan” kegiatan pemotretan perkawinan sampai ke segala segi.

Dunia fotografi dunia mengenal wedding photography dan kegiatan ini hanyalah memotret sepasang pengantin baik saat kegiatan pemberkatan maupun pose sepasang mempelai itu di outdoor maupun di dalam studio. Sementara fotografi prewed yang hanya marak di Indonesia semata memotret sepasang calon pengantin itu untuk berbagai keperluan, seperti untuk menghias undangan, untuk foto yang dipasang di ruang resepsi, dan secara umum hanyalah foto dua manusia yang sedang berbahagia.

Namun, jangan sepelekan bisnis yang terjadi di dunia fotografi prewed ini. Walau dia umumnya satu paket dengan fotografi pernikahannya nanti, fotografi prewed telah menjadi batu loncat ratusan fotografer pemula untuk terjun ke dunia profesional.

Kalau saja Anda akan menikah dalam waktu dekat dan tempat pernikahan Anda cukup fotogenik, seperti Masjid Istiqlal Jakarta, Gereja Blenduk Semarang, atau Gereja Imanuel, Gambir, Jakarta, percayalah, Anda bisa mendapatkan beberapa fotografer gratisan. Mereka adalah pemula dalam bisnis ini dan berniat mengumpulkan portofolio untuk modal kerja selanjutnya. Seorang fotografer yang ingin mendapatkan kerja memotret acara perkawinan wajib punya contoh-contoh pemotretannya agar sang calon klien bisa yakin pada mutu sang fotografer sekaligus bisa memilih tipe-tipe dan gaya pemotretannya.

Fotografi prewed mewajibkan seorang fotografer punya daftar tempat-tempat yang bagus untuk latar belakang dan style pemotretan.

Sejalan dengan waktu, saat ini hampir semua tempat, terutama sekitar Jakarta, menuntut pembayaran kalau dipakai untuk pemotretan prewed.

Beberapa kompleks perumahan bahkan memasang tarif sampai tujuh digit rupiah. Sampai saat ini hanya perumahan Springhill di kawasan Kemayoran yang justru mengadaptasi kebutuhan fotografi prewed dengan cuma-cuma.

Dalam memotret prewed, seorang fotografer harus mampu mengarahkan gaya sang calon pengantin (kalau perlu membawa pengarah gaya) serta bisa memanfaatkan keindahan tempat pemotretan dengan maksimal. Namun, kalau tidak waspada, keindahan tempat yang dipakai justru bisa membawa risiko pada kerusakan alat seperti yang terekam di halaman ini.

Foto karya Bambang Djatmiko tersebut merekam kegiatan fotografi prewed yang membuat para pelakunya tersapu gelombang. Walau tak ada korban jiwa, salah satu kamera yang dipakai rusak oleh air laut.

Berapa uang yang didapat seorang fotografer untuk pemotretan prewed?

Inilah hal tersulit bagi seorang pemula untuk menentukan tarif. Kalau Anda akan memulai bisnis fotografi perkawinan dan prewed, mulailah segalanya dengan menentukan berapa Anda akan dibayar. Mutu dan harga haruslah sebanding. Saat ini di Jakarta, rentang biaya fotografi prewed profesional adalah sekitar Rp 1 juta sampai dengan Rp 100 juta.

Seorang pelaku bisnis ini yang cukup sukses, yaitu Bernardo Halim, telah beberapa kali melakukan fotografi prewed sampai ke luar negeri, misalnya ke Central Park di New York.

“Lebih enak ke luar negeri. Gak reseh kayak di Jakarta yang sering dimintai uang tak jelas,” kata Bernardo yang memulai bisnisnya setamat lulus SMA tahun 2004.

Fotografi prewed adalah cabang fotografi komersial yang termudah sekaligus tersulit.

 

Sumber: www.kompas.com

Foto by: Bernardo Halim

Daftar Pertanyaan Penting Sebelum Menikah

Foto: www.huntingbigsales.com

Ketika hubungan semakin serius menuju jenjang pernikahan, saatnya mengenal pasangan lebih jauh ke dalam dirinya. Kesesuaian pandangan dan cara berpikir akan memudahkan Anda dan pasangan mengatasi berbagai masalah nantinya.

Penelitian telah membuktikan bahwa tak ada perbedaan antara pasangan menikah yang langgeng dan mereka yang akhirnya bercerai. Keduanya sama-sama mengalami konflik dalam pernikahan. Pasangan menikah yang berhasil bertahan adalah mereka yang mampu menghadapi konflik lebih baik karena saling menerima dan mengenal pasangan lebih jauh.

Menurut Amy Spencer, pakar hubungan (relationship), sejumlah pertanyaan ini sebaiknya Anda diskusikan bersama tunangan. Tujuannya adalah untuk lebih jauh mengenal dan menerima pasangan sepenuh hati jika memang sudah telanjur jatuh cinta. Atau jika cukup berani, Anda bisa saja tak melanjutkan hubungan karena perbedaan perspektif yang dirasa tak mudah dikompromikan nantinya. Hal ini lebih baik daripada tetap menikah, tetapi Anda menyimpan masalah, bukan?

Seputar keuangan
Bagaimana cara kita mengatur keuangan? Inilah pertanyaan utama yang perlu Anda bahas bersama tunangan, lalu menentukan siapa pembuat keputusan dalam keuangan, dan apakah tunangan memiliki utang yang memberatkan.

Persoalan keuangan bukan masalah sepele. Memahami bagaimana kondisi keuangan pasangan dan kesepakatan berdua untuk nantinya mengatasi masalah keuangan akan lebih memudahkan hubungan. Dengan mengenal pasangan dan kondisi keuangannya, Anda tentu lebih bersiap berkompromi dan menjalani kehidupan pernikahan.

Seputar tugas di rumah
Siapa yang berperan mengurus rumah? Dengan dialog dan kesepakatan yang dibangun sejak awal, Anda dan pasangan takkan melemparkan tugas di kemudian hari saat sudah menikah. Membayar jasa pekerja rumah tangga atau berbagi peran demi alasan penghematan? Kedua cara ini bisa menjadi pilihan, atau Anda dan pasangan mencari kesepakatan lainnya. Apa pun pilihannya, pastikan Anda sudah mendiskusikan hal yang terkesan sepele, tetapi bisa menjadi sumber konflik rumah tangga ini.

Hubungan dengan keluarga
Sejauh mana keluarga atau kerabat bisa terlibat dalam kehidupan rumah tangga Anda nantinya? Inilah pertanyaan yang perlu juga diajukan kepada tunangan. Anda dan pasangan perlu memiliki kesepakatan bersama tentang batasan campur tangan keluarga Anda atau tunangan. Bahkan, menurut Spencer, Anda juga bisa lebih detail membahas masalah ini. Misalnya, seberapa sering sebaiknya Anda dan pasangan mengunjungi keluarga? Adakah kemungkinan nantinya orangtua tinggal bersama Anda dan pasangan, sehari, atau bahkan permanen? Hal ini perlu dibuatkan kesepakatan dan kompromi. Terutama bagi Anda pasangan mandiri yang ingin membangun dunia kecil bersama pasangan dan keturunan Anda kelak.

Soal anak
Apakah tunangan ingin segera mendapatkan anak? Berapa banyak? Apakah agama harus menjadi fondasi dasar untuk anak-anak? Haruskah salah satu dari kita tinggal di rumah untuk mengurus anak? Siapa yang sebaiknya menjalani peran ini? Inilah sejumlah pertanyaan seputar anak yang perlu disampaikan kepada tunangan.

Pertanyaan yang sama juga mungkin datang dari orang lain terhadap Anda dan pasangan. Dengan kesesuaian berpikir, Anda dan pasangan akan kompak menjawab jika pertanyaan ini diajukan. Soal anak cukup sensitif, bukan? Apalagi jika Anda dan pasangan sepakat untuk menunda kehamilan karena berbagai alasan yang sudah disepakati. Anda dan pasangan bisa merespons komentar orang lain dengan kompak jika sudah ada kompromi dan kesepakatan di awal.

Seks
Hubungan seks bagi pasangan menikah rasanya lahir alamiah nantinya. Namun, tak ada salahnya menanyakan soal seks kepada tunangan, seperti seberapa sering aktivitas seks akan dilakukan nantinya? Harapan dari setiap individu bisa disampaikan dengan terbukanya dialog. Anda, begitu pun pasangan, bisa mengetahui seperti apa kebutuhan seksualitas setiap individu. Dengan begitu, Anda lebih bisa memahami pasangan. Keharmonisan pernikahan, salah satunya juga dipengaruhi faktor seks, Anda sepakat?

Konsultasi pernikahan

Pasangan semestinya sudah siap dengan berbagai problematika pernikahan yang akan dihadapi nantinya. Bagaimana cara Anda dan pasangan untuk mengatasi berbagai masalah juga perlu dipersiapkan. Setidaknya dengan mendiskusikannya bersama tunangan. Salah satu pertanyaan yang bisa diajukan adalah bersediakah tunangan Anda mengikuti kelas konsultasi pernikahan atau bahkan terapi jika suatu ketika Anda berdua membutuhkan bantuan?

Membuka diri dengan memahami pasangan lebih mendetail berdampak positif pada kesiapan mental untuk menikah. Anda dan tunangan pun lebih siap menghadapi berbagai konflik hubungan berpasangan, kini dan nanti.


WAF

Editor: Dini

Sumber: kompas.com

Type Pasangan Menikah Yang Ideal

Sopan santun ternyata juga diperlukan dalam hubungan pernikahan. Kata kunci inilah yang mampu melanggengkan pernikahan. Betapapun Anda dan pasangan berbeda pendapat dan pandangan, namun jika tetap mengedepankan kesopanan dan kesantunan, rasanya perbedaan dua individu masih bisa dikompromikan.

John Gottman, PhD, profesor bidang psikologi dari University of Washington bersama penulis Nan Silver, menyebutkan sejumlah contoh pernikahan dan bagaimana agar pasangan bisa melewati konflik dalam rumah tangga.

Gottman menjelaskan saat humor tak lagi hadir dalam hubungan berpasangan dan kritik mendominasi, maka yang terjadi adalah komunikasi pasangan menikah menjadi terhambat. Sikap saling menghargai juga mulai menghilang, diikuti perasaan dan pikiran negatif pada diri pasangan.

Setiap pasangan umumnya pernah berada dalam situasi konflik yang terpicu dari pertengkaran kecil seharian. Namun bagaimana mengatasi konflik dan menjaga keutuhan hubungan, akan menentukan sesehat apa sebuah pernikahan. Seperti yang terjadi pada pasangan dengan berbagai karakter dan perbedaan usia berikut ini:

1. Suami-istri berusia 30 tahun, berasal dari keluarga minim komunikasi
Dengan latar belakang keluarga yang sama, pasangan ini membangun komunikasi lebih baik dan menjadikannya prioritas dalam hubungan. Pasangan ini tentu saja pernah mengalami pertengkaran, namun sebelum amarah meningkat, keduanya lebih memfokuskan masalah dengan masing-masing perbedaan yang memunculkan konflik. Artinya, untuk menghindari adu mulut, justru pasangan ini menghadapi perbedaan dengan membuat semacam konferensi untuk menjelaskan masing-masing perspektif dalam melihat suatu masalah. Akhirnya, pasangan tipe ini menghasilkan kompromi dan hubungan tetap terjaga harmonis.

2. Suami 40 tahun dan istri 25 tahun, sering bertengkar
Suami-istri ini mengaku frekuensi pertengkaran mereka lebih sering daripada rata-rata pasangan menikah. Kecenderungannya, pasangan ini seringkali saling menginterupsi, membela diri, dan tidak mendengarkan pendapat pasangan. Betapapun kisruhnya suasana namun akhirnya pasangan ini mampu mengambil suara yang sama. Caranya, mereka lebih sering bersama untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan. Artinya frekuensi pertengkaran masih lebih kecil dibandingkan suasana menyenangkan yang dibangun pasangan ini. Tipe pasangan menikah seperti ini toh tetap mampu menjaga hubungan tetap sehat.

3. Suami 29 tahun dan istri 27 tahun, memiliki waktu untuk diri sendiri

Pasangan ini menghargai waktu privat untuk diri sendiri. Meskipun sejak awal saling mengenal, keduanya merasa memiliki kegemaran dan banyak hal lain yang sama. Pasangan ini bisa dikatakan sangat kompak dalam segala hal. Namun, mereka pun menikmati dan menghargai privasi dan memberikan keleluasaan kepada pasangan untuk menikmati waktunya sendiri, tanpa perlu selamanya berduaan. Alhasil, keduanya merasa jarang bertengkar. Jikapun mengalami pertengkaran, keduanya memutuskan untuk menenangkan diri dengan melakukan aktivitas masing-masing, seperti joging sendiri. Cara ini diakui keduanya lebih mampu meredakan masalah daripada adu mulut saat tensi mulai meninggi.

Menurut Gottman, tipe pasangan pertama menekankan komunikasi dan kompromi dalam pernikahannya. Hubungan pernikahan seperti ini paling ideal dibandingkan kedua tipe lainnya, meskipun semua tipe tadi tetap berhasil mempertahankan hubungan pernikahan yang sehat. Idealitas dalam hubungan pernikahan terbangun dengan kemampuan mengontrol diri. Artinya, meski pasangan terlibat dalam pembicaraan serius, keduanya tetap mampu mengontrol diri.

Bersikap tenang, saling mendengar dan memahami emosi pasangan, menjadi kunci sukses hubungan pernikahan yang sehat. Cara ini bisa mengurangi perdebatan dan pertengkaran antara suami-istri.


WAF

Editor: Dini

Sumber: psychologytoday