Tag Archives: Prosesi

Alamat KUA & Catatan Sipil Jakarta

Untuk mengesahkan prosesi pernikahan secara hukum, tentu saja dibutuhkan kehadiran seorang penghulu atau petugas catatan sipil. Untuk membantu anda mencari dan menghubungi mereka, berikut adalah daftar alamat Kantor Urusan Agama & Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta.

KANTOR URUSAN AGAMA

  1. Jakarta Pusat
    1. KUA Kec. Menteng Jl. Pegangsaan Barat No.14 Menteng Telp. 331817
    2. KUA Kec. Senen Jl. Kalibaru IV Gg.II No.36 Telp. 4258264
    3. KUA Kec. Gambir Jl. Pembangun 11 Taman Petojo Utara Telp. 6338623
    4. KUA Kec. Cempaka Putih Jl. Cmpk Putih Tengah XIII/10 Telp. 4258244
    5. KUA Kec. Kemayoran Jl. Serdang No.3 Kemayoran Telp. 4259950
    6. KUA Kec. Sawah Besar Jl. Mangga Dua Dalam No.10 Telp. 6016889
    7. KUA Kec. Tanah Abang Jl. Mutiara No.2 Karet Tengsin Telp. 5743823
    8. KUA Kec. Johar Baru Jl. Tanah Tinggi IV / 86B Telp. 4257980
  2. Jakarta Utara
    1. KUA Kec. Koja Jl. Mangga No.24 Kel.Lagoa Telp. 43935422
    2. KUA Kec. Cilincing Jl. Sungai Landak No.7 Cilincing Telp. 4407990
    3. KUA Kec. Penjaringan Jl. Pluit Raya No.15 Penjaringan Telp. 6601505
    4. KUA Kec. Pademangan Jl. Mulia Raya Telp. 6402649
    5. KUA Kec. Tanjung Priok Jl. Yos Sudarso No.22 Telp. 43935765
    6. KUA Kec. Kelapa Gading Jl. Tm Griya Pratama Blok MA Telp. 45841307
  3. Jakarta Barat
    1. KUA Kec. Tambora Jl. Masjid Pekayon IV/46 Tambora Telp. 6913395
    2. KUA Kec. Kebon Jeruk Jl. Raya Duri Kepa Telp. 5640052
    3. KUA Kec. Grogol Jl. Hadiah IV/10 Kel.Jelambar Telp. 56963774
    4. KUA Kec. Taman Sari Jl. Kemukus No.2 Kel.Pinangsia Telp. 6910757
    5. KUA Kec. Palmerah Jl. Melati Putih No.2 Kel.Kemanggisan Telp. 5329895
    6. KUA Kec. Kalideres Jl. Peta Utara No.2 Kel.Pegadungan Telp. 5450773
    7. KUA Kec. Cengkareng Jl. Utama Raya Pasar Ganefo Telp. 5406246
    8. KUA Kec. Kembangan Jl. Kembangan Utara Telp. 5821769
  4. Jakarta Selatan
    1. KUA Kec. Kebayoran Baru Jl. Kerinci No.20 Keb.Baru Telp.7393335
    2. KUA Kec. Kebayoran Lama Jl. H. Saiman Buntu Pd.Pinang Telp.75909442
    3. KUA Kec. Setia Budi Jl. Setia Budi Barat VII / 8K Telp. 5261876
    4. KUA Kec. Mampang Jl. Kemang Timur 1/3 Telp. 7901913
    5. KUA Kec. Tebet Jl. Tebet Barat Dalam 11 Telp. 8297707
    6. KUA Kec. Cilandak Jl. Muhasyim VII/90 Cilandak Barat Telp. 7658558
    7. KUA Kec. Pasar Minggu Jl. Kebagusan Raya No.52 Ragunan Telp. 7822819
    8. KUA Kec. Pancoran Jl. Rawajati Barat V Kel.Rawajati Telp. 7948428
    9. KUA Kec. Pesanggrahan Jl. Beo No.19 Kel. Pesanggrahan Telp. 7365966
    10.KUA Kec. Jagakarsa Jl. Sirsak No.97 Kel.Jagakarsa Telp. 7865026
  5. Jakarta Timur
    1. KUA Kec. Matraman Jl. Balai Rakyat Utan Kayu Matraman Telp. 8577053
    2. KUA Kec. Jatinegara Jl. I Gusti Ngurah Rai Cip.Muara Telp. 8577966
    3. KUA Kec. Pulo Gadung Jl. Balai Pustaka Rawamangun Telp. 4700994
    4. KUA Kec. Kramat Jati Jl. Dukuh III No.3 Kramat Jati Telp. 87793173
    5. KUA Kec. Pasar Rebo Jl. Makasar No.42 Kel.Pekayon Telp. 8707848
    6. KUA Kec. Duren Sawit Jl. P.Revolusi No.47 Pd.Bambu Telp. 8602573
    7. KUA Kec. Ciracas Jl. Penganten Ali Gg.AMD Kel.Ciracas Telp. 8413485
    8. KUA Kec. Makasar Jl. Kerja Bhakti Gg.Abd.Gani Telp. 8003157
    9. KUA Kec. Cipayung Jl. Bina Marga No.3 Telp. 8446808
    10.KUA Kec. Cakung Jl. Kayu Tinggi Cakung Telp. 4611235
  6. Kepulauan Seribu
    1. KUA Kec. Kep.Seribu Utara Pulau Harapan
    2. KUA Kec. Kep.Seribu Selatan Pulau Pramuka

 

KANTOR DINAS KEPENDUDUKAN & CATATAN SIPIL

Propinsi DKI Jakarta

Jalan Letjen. S. Parman No. 7 Jakarta Barat, Telp. 5662400, 5666242

 

Kantor Sudin Kependudukan dan Catatan Sipil  5 Kota

  1. Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kotamadya Jakarta Utara, Jalan Berdikari No. 2 Jakarta Utara,

    Telp. 4357508, 42930358

  2. Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kotamadya Jakarta Barat, Jalan Meruya  Utara No.5 Kembangan (disamping MAKRO),

    Telp 58902657

  3. Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kotamadya Jakarta Timur, Jalan Cipinang Baru Raya No. 16 Jakarta Timur

    Telp. 4603844,48703401,4895725

  4. Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kotamadya Jakarta Pusat, Jalan Tanah Abang I Jakarta Pusat,

    Telp. 3852857

  5. Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kotamadya Jakarta Selatan, Jalan Radio V No. 1 Jakarta Selatan,

    Telp. 72801284-85

foto ijab kabul

Sumber: http://www.kependudukancapil.go.id & http://kuapasarminggu.blogspot.com

Prosesi Pernikahan Adat Cina

Melihat hari, jam dan tanggal baik merupakan salah satu hal yang wajib diperhitungkan bagi tradisi adat China di Indonesia. Dengan banyaknya kebutuhan yang harus dilengkapi dan kekurang pengetahuan akan hal itu, tidak jarang banyak pasangan yang akhirnya menyerahkan kepada orang tua mempelai. Pesta pernikahan bukan hanya sebagai simbol sementara, bahwa pasangan telah resmi dalam ikatan. Namun bagi keluarga sesepuh yang sangat memperhatikan adat istiadat, mereka menganggap bahwa pernikahan adat China haruslah sakral, bukan hanya untuk kedua pasangan namun juga ikatan antara kedua belah keluarga.

Kurang memahami pernik yang digunakan dalam adat upacara perkawinan sering dijumpai dalam masyarakat modern keturunan di Indonesia. Namun sekarang sudah banyak dijual bermacam – macam asesoris untuk perkawinan dengan menyesuaikan adat China.

Bagi mereka yang masih pusing dengan perlengkapan yang harus dipenuhi selama berlangsungnya acara, kami berikan beberapa pernik yang sekiranya sudah menjamur dan menjadi bagian dalam kebudayaan perkawinan China di Indonesia dan juga arti dari setiap asesoris tersebut.

 

Tea Pay
Dok: ocehansufei.blogspot.com

Lamaran dan Mahar
Dalam tradisi China proses lamaran dilakukan seminggu sebelum berlangsungnya pernikahan. Lamaran merupakan pemberian barang dari mempelai pria untuk mempelai wanita yang nantinya akan digunakan oleh kedua calon mempelai untuk kehidupan setelah masa pernikahan. Barang yang diserahkan biasanya melambangkan kelanggengan, kesuburan dan juga kebahagiaan untuk pasangan. Yang unik dari barang lamaran pada adat ini ialah banyaknya nominal 9 (jiu) atau 8 (fat) yang menjadi kunci pokok langgeng dan berkembangnya kebahagiaan bagi kedua mempelai.

Barang yang menjadi hantaran biasanya berupa:

– Uang; dalam masyarakat modern biasanya jumlahnya sudah ditentukan bersama contohnya Rp. 9.999.900,
– Perhiasan berupa kalung, gelang, anting didalam kotak merah,
– Peralatan sehari – hari (peralatan mandi, peralatan makan, dll),
– Satu set peralatan Tea Pay,
– Kue Pia atau bolu (dibagikan kepada sanak saudara yang membantu),
– Makanan laut yang sudah dikeringkan (juhi, sirip ikan “yu che”)
– Kacang – kacangan (almond, hijau & merah),
– Sepasang kaki babi untuk melambangkan keselamatan,
– Kelapa bulat yang ditempel aksara Chinese berarti ‘Double Happy’,
– Buah – buahan segar (jeruk, apel, anggur dll.)
– Akar teratai “Lian Au”, melambangkan rukunnya tiga generasi; orang tua, anak dan cucu, sedangkan buah teratai kering “Lian Ce”, melambangkan keturunan.
– Permen atau gula batu melambangkan manisnya kehidupan semanis mempelai wanita.

Menghias Kamar
Setelah semua acara lamaran sudah dipersiapkan, kini saatnya merapikan tempat peraduan kedua mempelai. Tradisi merias kamar pengantin dilakukan juga seminggu sebelum Hari H berlangsung. Menghias kamar merupakan salah satu tradisi yang masih dilakukan oleh para orang tua kedua mempelai.

Di era modern, menghias kamar dapat dilakukan oleh para perias pengantin. Namun bagi masyarakat Tionghoa dulu, merias kamar menjadi tradisi yang ditunggu – tunggu oleh para keluarga kedua calon mempelai. Orang yang menghias kamar pengantin biasanya ialah kerabat yang sudah menikah dan kehidupan pernikahannya terkenal langgeng, ini melambangkan agar dapat menjadi contoh bagi kedua calon mempelai.

Menghias kamar pengantin dengan warna merah melambangkan kebahagiaan dan semangat hidup, lampu lentera juga kerap diletakkan di dalam kamar. Dengan maraknya lampu yang ada, diharapkan pernikahan ini akan menerangi bagi pasangan dalam melangkah kehidupan bersama. Sebagai simbol lancarnya keturunan mempelai, kamar yang sudah rapih biasanya ditiduri oleh bayi atau balita.

Dari semua arti positif yang terkandung dalam setiap barang dan perbuatan, ada juga larangan yang tidak boleh dilakukan oleh para mempelai di dalam kamar ini yaitu salah seorang mempelai, baik itu mempelai pria maupun wanita, tidak diperkenankan tidur sendiri tanpa pendamping. Secara tidak langsung hal ini berarti menjauhkan mereka dari kehilangan salah satu pasangan, entah karena bercerai atau meninggal.

Upacara
Pagi hari sesaat sebelum upacara dilakukan setelah selesai mandi, mempelai pria diharuskan memakai pakaian putih. Sambil disisir 3 kali dari kepala hingga ujung rambut oleh kerabat dekat yang masih lengkap keluarganya, diucapkanlah juga tiga kalimat ini : sisiran pertama “hidup bersama sampai rambut beruban..” sisiran kedua “diberkahi keturunan..” dan sisiran ketiga “rumah tangga harmonis..”.

Setelah melakukan ritual pagi, tibalah saatnya untuk upacara. Upacara dimulai dengan sembahyang untuk para leluhur demi meminta ijin berlangsungnya acara, setelah itu keluarga beserta kedua calon mempelai menikmati hidangan kue onde, ini melambangkan agar acara yang akan dilangsungkan berjalan dengan lancar, layaknya bola yang bergelinding.

Tea Pay
Dok: rh337.blogspot.com

Tibalah saatnya untuk Tea Pay, pasti banyak dari Anda yang lebih mengenal adat ini ketimbang adat yang telah saya jabarkan di atas. Fungsi dari Tea pay sendiri ialah layaknya perkenalan bagi para calon mempelai dengan keluarga dari kedua belah pihak. Selain itu upacara yang dapat berarti “jualan teh” ini juga sebagai penghormatan dari kedua calon mempelai kepada orang tua dan kerabat sepuh agar mendoakan mempelai menjadi pasangan yang bahagia lahir batin dalam susah dan senang.

Prosesinya pun cukup mudah, kedua mempelai berlutut atau membungkuk, sambil menjamu dan mempersilahkan kedua orang tua menikmati teh yang telah dituang oleh mempelai pria dan diberikan oleh mempelai wanita. Lalu setelah prosesi jamuan minum selesai, kedua mempelai dibayar atau diberi hadiah berupa angpao biasanya berisi perhiasan ataupun uang. Untuk perhiasan, orang tua biasanya langsung memakaikan kepada mempelai wanita dan untuk uang angpao akan di letakkan di atas nampan atau saku mempelai pria.

Semua prosesi adat di atas dapat dilakukan di jaman sekarang, hanya saja bila masih ada perhelatan lain, sebut saja seperti pemberkatan di gereja atau juga acara resepsi. Tidak menutup kemungkinan sebagian masyarakat telah menyederhanakan bagian dari adat tersebut.

Teks: Novi Rahayu | www.weddingku.com

Bacaan Ijab Kabul

Grogi menjelang akad nikah (muslim) adalah hal yang lumrah di alami oleh calon pengantin khususnya calon pengantin pria. Umumnya, mereka khawatir salah pada saat ijab kabul. Tak terbayang rasa malu yang akan dihadapi apabila diminta mengulang oleh penghulu atau saksi nikah.

 

Kegelisahan tersebut dapat diminimalisir tentu saja dengan persiapan yang baik. Pastikan anda cukup istirahat, rileks dan jangan membebani pikiran dengan hal-hal yang tidak penting.

 

Dan untuk menghindari terjadinya kesalahan saat pembacaan ijab kabul, biasanya penghulu akan mempersiapkan teks/bacaan ijab kabul agar wali nikah & calon pengantin pria dapat membacanya tanpa khawatir melakukan kesalahan.

 

Namun, agar lebih baik lagi, ada baiknya anda mempersiapkan diri dengan mulai menghafal bacaan tersebut. Berikut adalah bacaan ijab kabul yang (umumnya) akan dibacakan saat akad nikah nanti.

Bacaan Ijab Kabul Wali CPW

Bismillahirrahmanirrohim,

Astaghfirullahaladzim (3) wa a’tubu ilaih

Asyhaduanllaa ilaaha ilallah, wa’ashaduanna Muhammadarosulullah,

ANANDA (nama CPP) BIN (nama bapak CPP), SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN KAMU, DENGAN ANAK KANDUNG SAYA, (nama CPW) BINTI (nama bapak CPW) DENGAN MAS KAWIN (mas kawin) DI BAYAR TUNAI

Bacaan Ijab Kabul CPP

SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA (nama CPP) BINTI (nama bapak CPP) DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT TUNAI

 

Ditulis oleh: Manten Party Wedding Organizer

Foto: anto-retno.blogspot.com

Makna di Balik Tradisi Pernikahan di Indonesia

Rata-rata pernikahan yang digelar di Indonesia menyelipkan upacara adat, seperti berebut daging ayam dan menginjak telur. Sebenarnya apa maksud dari adat atau tradisi tersebut? Adakah hubungannya dengan kehidupan pernikahan nantinya?

Berikut ini arti di balik beberapa tradisi yang kerap dilakukan dalam pesta-pesta pernikahan di Indonesia:

Burung Merpati
foto: ciungtips.blogspot.com

Merpati

Dalam rangkaian tata cara sabda nikah pada prosesi pernikahan adat Sunda, yang dilakukan saat hari-H, terdapat acara Melepas Merpati (Ngaleupaskeun Japati). Dalam prosesi ini, ibu kedua mempelai berjalan keluar sambil masing-masing membawa burung merpati. Ibu mempelai wanita membawa merpati betina, sementara ibu mempelai pria membawa merpati jantan, kemudian dilepaskan terbang di halaman. Tradisi ini melambangkan bahwa peran orang tua sudah berakhir hari itu karena kedua anak mereka telah mandiri dan memiliki keluarga sendiri.
Pintu

Dalam rangkaian tata cara sabda nikah pada prosesi pernikahan adat Sunda, yang dilakukan saat hari-H, terdapat acara Buka Pintu. Dalam pernikahan adat Minahasa, dikenal dengan upacara Toki Pintu (maso minta).

Sebelum memasuki rumah keluarga pengantin wanita, pengantin pria harus mengetuk pintu tiga kali. Upacara ini memiliki makna penting khususnya dalam kehidupan bertetangga. Sebelum bergaul dengan tetangga, kita tentu harus membuka pintu terlebih dahulu agar diterima sebagai bagian dari lingkungan kita.

Sapu Lidi

Dalam prosesi pernikahan adat Sunda yang dilakukan satu hari sebelum hari-H, terdapat acara Dikeprak (dipukul pelan-pelan) dengan sapu lidi, yang menjadi bagian dari upacara Ngeuyeuk Seureuh. Makna yang terkandung di dalamnya adalah agar kedua mempelai saling memupuk kasih sayang dan giat bekerja.

Perlengkapan Adat Sunda
foto: aozora2006.wordpress.com

Selain itu, dalam prosesi pernikahan adat Sunda yang dilakukan saat hari-H, ada juga acara Membakar Harupat (lidi). Harupat (Lidi) adalah lambang sifat lelaki yang keras. Sikap pemarah lelaki yang digambarkan dengan nyala lidi. Api amarah lelaki itu menjadi padam ketika disiram dengan air kelembutan seorang wanita.

Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa sifat-sifat pemarah dan tak terpuji (getas harupateun) bagi lelaki yang akan menjadi tiang dan kepala rumah tangga itu harus segera dihilangkan sebelum memasuki bahtera rumah tangga.

Uang Logam

Dalam puncak dari serangkaian acara prosesi pernikahan adat Jawa Solo, yang menjadi bagian dari upacara Panggih terdapat acara Kacar-kucur. Dilaksanakan setelah upacara ijab, di mana kedua mempelai telah dianggap sah menjadi suami istri. Saat acara tersebut, mempelai pria mengucurkan penghasilan kepada mempelai wanita berupa uang receh beserta kelengkapannya. Makna yang terkandung di dalamnya adalah mempelai pria bertanggung jawab memberi nafkah pada keluarga.

Selain itu ada juga Sawer atau Nyawer. Asal kata nyawer adalah awer dan ibarat seember benda cair yang biasa di-uwar-awer (ditebar-tebar). Dulu hanya dilakukan terhadap salah satu pengantin saja, tapi sekarang dilakukan kepada kedua mempelai di luar kediaman mempelai wanita. Dan yang disawerkan adalah campuran beras, uang logam, kunyit, dan permen. Makna yang lebih dalam dari ritual ini adalah menebar nasihat kepada kedua mempelai sebelum memasuki bahtera rumah tangga.

Ayam

Adanya ayam pada semua upacara adat pernikahan biasanya bukan ayam hidup atau ayam mentah tapi sudah dimasak. Dalam prosesi pernikahan adat Minangkabau, tradisi yang dilakukan usai akad nikah terdapat acara Mangaruak Nasi Kuniang. Di mana kedua mempelai berebut mengambil daging ayam yang tersembunyi di dalam nasi kuning. Makna yang terkandung di dalamnya adalah hubungan kerjasama antara suami istri harus saling menahan diri dan harus saling melengkapi.

Sedangkan dalam prosesi pernikahan adat Sunda yang dilakukan saat hari-H, terdapat acara Huap Lingklung atau Huap Deudeuh (kasih sayang). Diawali dengan kedua mempelai disuapi oleh kedua orang tuanya masing-masing. Kemudian kedua mempelai saling menyuapi. Acara Huap Lingklung diakhiri dengan saling menarik (pabetot-betot) bakakak ayam (ayam utuh yang dibakar).

Makna yang lebih dalam dari Huap Lingklung adalah sebagai tanda kasih sayang. Sedangkan makna yang terkandung dalam pabetot-betot bakakak ayam adalah sebagai simbol rezeki, siapa yang mendapatkan potongan ayam terbesar konon yang akan membawa rejeki lebih banyak. Dan setelah itu ayam dimakan bersama, maknanya adalah rezeki yang diperoleh harus dinikmati bersama.

Injak Telur
foto: anto-retno.blogspot.com

Telur & Kendi

Dalam puncak dari serangkaian acara prosesi pernikahan adat Jawa Solo, yang menjadi bagian dari upacara panggih terdapat acara Ngidak Endhog. Dilaksanakan setelah upacara ijab, di mana kedua mempelai telah dianggap sah menjadi suami istri. Saat acara tersebut, pengantin pria menginjak telur ayam kemudian dibersihkan atau dicuci kakinya oleh pengantin wanita dengan kendi. Makna yang terkandung di dalamnya adalah sebagai simbol seksual kedua mempelai sudah pecah pamornya.

Sedangkan dalam proses pernikahan Adat Sunda, tradisi itu dinamai Nincak Endog. Prosesinya sama dengan Ngidak Endhog di atas. Makna yang terkandung adalah sebagai simbol keturunan. Telur adalah lambang segala awal kehidupan dan simbol kesuburan. Bila dalam acara tersebut telur yang diinjak pecah, maka pengantin akan segera  mendapatkan keturunan. Sementara mencuci kaki melambangkan penyucian diri dari segala hal negatif.

 

 

 

 

 

(eny/eny)

Sumber: www.wolipop.com

Pernikahan Melayu: Makna Dibalik Ritual Inai (Daun Pacar)

Daun pacar atau Inai dan bahkan ada yang menyebutnya dengan Henna, adalah tumbuhan yang biasa digunakan kaum wanita untuk menghias kuku. Sudah sejak jaman dulu, wanita di Semenanjung Medeterania, Melayu dan juga Indonesia menggunakan daun tersebut untuk mewarnai kuku agar terlihat cantik. Selain untuk mewarnai tangan dan kaki, daun inai juga berguna untuk mengobati luka ringan seperti kulit tergores dan sebagainya.

Sebagian besar prosesi pernikahan tradisional di beberapa daerah yang ada di Indonesia memasukan ritual pemakaian daun pacar sebagai salah satu ritual pernikahan. Masing-masing daerah memiliki arti dan makna tersendiri untuk ritual tersebut, meski di masa sekarang ritual ini dianggap oleh sebagian kalangan masyaarakat Indonesia sebagai pelengkap prosesi pernikahan suatu adat semata. Apa saja makna dan arti dari ritual memakai inai atau daun pacar tersebut?

 

Malam Bohgaca dari Aceh
Arti dari Malam Bohgaca adalah Malam Berinai (mengenakan pacar atau inai) dan dilakukan sebelum akad nikah dilangsungkan. Daun pacar/ inai melambangkan isteri sebagai obat pelipur lara sekaligus sebagai perhiasan rumah tangga. Daun pacar yang sudah di lepas dari tangkainya, ditempatkan dalam piring besar kemudian ditumbuk. Daun pacar ini akan dipakaikan beberapa kali sampai menghasilkan warna merah yang terlihat alami.

Malam Bainai dari Minangkabau
Malam Bainai di Minangkabau adalah malam seribu harapan, seribu doa bagi kebahagiaan rumah tangga anak daro yang akan melangsungkan pernikahan esok harinya. Tumbukkan daun inai atau daun pacar, di torehkan pada kuku calon mempelai oleh orang tua, ninik mamak, saudara, handaitaulan dan orang-orang terkasih lainnya.

Berinai dari Riau
Pada malam hari sebelum upacara pernikahan dilakukan, maka diadakan pemakaian daun inai pada kedua mempelai. Tujuan upacara ini adalah untuk menolak bala dan melindungi pasangan pengantin dari marabahaya, memunculkan aura dan cahaya calon pengantin dan memunculkan wibawa pengantin pria.

Berpacar dari Palembang
Upacara berpacar adalah mewarnai seluruh kuku tangan dan kaki, juga telapak tangan dan telapak kaki yang disebut pelipit menggunakan daun pacar atau inai. Kesan merah pada pacar berguna untuk mengusir segala jenis makhluk halus, dan daun pacar sendiri dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk memberi kesuburan bagi pengantin perempuan.

Pasang Pacar dari Lampung
Acara Pasang Pacar biasanya dilakukan satu hari, usai acara Betanges (mandi uap) dan Berparas (menghilangkan bulu-bulu halus & membentuk alis agar sang gadis terlihat cantik menarik). Hal ini juga akan mempermudah sang juru rias untuk membentuk cintok pada dahi dan pelipis calon pengantin wanita. Kemudian dilanjutkan dengan acara Pasang Pacar (inai) pada kuku-kuku agar penampilan calon pengantin semakin menarik pada keesokan harinya.

Malem Pacar dari Betawi
Acara Malem Pacar dilakukan usai Prosesi Ngerik atau mencukur bulu kalong dan membuatkan centung pada rambut di kedua sisi pipi di depan telinga. Acara Malem Pacar adalah malam mempelai wanita memerahkan kuku kaki dan tangannya dengan pacar.

Akkorotigi/Mapacci dari Bugis-Makassar
Upacara ini merupakan ritual pemakaian daun pacar ke tangan si calon mempelai.  Daun pacar memiliki sifat magis dan melambangkan kesucian. Menjelang pernikahan biasanya diadakan malam pacar atau Wenni Mappaci (Bugis) atau Akkorontigi (Makassar) yang artinya malam mensucikan diri dengan meletakan tumbukan daun pacar ke tangan calon mempelai. Orang-orang yang diminta meletakan daun pacar adalah orang-orang yang punya kedudukan sosial yang baik serta memiliki rumah tangga langgeng dan bahagia. Malam Mappaci dilakukan menjelang upacara pernikahan dan diadakan di rumah masing-masing calon mempelai.

Teks: Ratri Suyani
Foto: Dok. Istimewa

Sumber: www.weddingku.com

Makna Simbol Dalam Pernikahan Adat Batak

 

Pernikahan adalah suatu hal yang sakral dan penting dalam kehidupan dua insan yang bertukar ikrar, termasuk keluarga mereka yang akan menyatu melalui kedua mempelai. Saat memutuskan untuk mengarungi kehidupan pernikahan, umumnya, kedua orangtua mempelai akan menyematkan harap untuk kedua mempelai. Setiap suku memiliki adat dan kebiasaan masing-masing. Tak terkecuali dalam adat Batak. Dalam pernikahan adat Batak, ada banyak tata aturan dan simbol. Dalam simbol-simbol tersebut, tersemat harap dan doa dari keluarga, kerabat, dan handai taulan.

Menurut Ibu Martha, pendiri wedding organizer Martha Ulos, “Dalam prosesi perkawinan Batak diusahakan untuk memperlihatkan simbol yang disajikan secara artistik dengan perpaduan unsur seni gorga Batak, seni tenun Ulos Batak, seni vokal, seni gerak tari, dan perangkat-perangkat perkawinan Batak.” Hal-hal kesenian tersebut terlihat dan diperagakan oleh Martha Ulos dalam acara Mahligai Megah Nusantara yang dilangsungkan di Hotel Shangri La beberapa waktu lalu.

Dijelaskan oleh Ibu Martha, dalam prosesi pernikahan budaya Batak, ada beberapa simbol yang dipergunakan. Berikut adalah beberapa hal umum di antaranya:

* Tunggal Panuluan
Merupakan tongkat pusaka yang biasa dipakai saat Martonggo berdoa untuk memohon berkat kepada Sang Khalik.

* Ampang Jual Sibuhai-buhai
Merupakan hantaran keluarga dari mempelai lelaki pada saat menjemput mempelai wanita. Didalamnya terdapat makanan adat yang akan dimakan bersama oleh keluarga mempelai wanita dan keluarga mempelai laki-laki (Suhut Bolon) sebelum acara besar adat dimulai.

* Tandok Boras Sipirnitondi
Merupakan simbol yang dibawa oleh pihak hula-hula (keluarga mempelai perempuan) dalam sistem kekerabatan Dalihan Natolu Batak. Golongan hula-hula adalah golongan yang diberi kedudukan terhormat, saluran berkat kepada keluarga Boru (mempelai laki-laki). Golongan yang lain dalam Dalihan Natolu adalah Dongan Sabutuha dan Boru. Boras sipirnitondi artinya adalah beras restu. Biasanya dibawa oleh penari, ditaruh di atas kepala dalam sebuah wadah dari rajutan jerami.

* Pinggan Pasu Panungkunan
Piring adat untuk memulai pembicaraan adat perkawinan Batak yang disampaikan juru bicara (raja parhata) keluarga mempelai wanita, berisi beras, sirih, dan uang 4 lembar.

* Ulos Hela (Ulos mempelai laki-laki)
Simbol perkawinan Batak yang paling tinggi nilainya. Diselimutkan oleh orangtua mempelai wanita kepada kedua mempelai pada saat acara berlangsung. “Saat pemberiannya pun tidak boleh sembarangan. Tangan yang memberikan harus bersentuhan dengan yang diberikan. Sebagai restu dan hangat orangtua kepada keduanya. Ulosnya disatukan tepat ditengah-tengah, di depan kedua mempelai,” jelas Ibu Martha kepada Kompas Female. Pada prosesinya, Ayah yang akan menyelimutkan ulos ini akan berkata-kata dan memberikan wejangan kepada kedua mempelai, menjelaskan makna dari ulos tersebut.

* Tempat Sirih Bermote
Biasanya, sebelum upacara dimulai, keluarga mempelai wanita menawarkan Sekapur Sirih kepada keluarga mempelai laki-laki.

Pada acara pertunjukkan tersebut, terdapat beberapa tarian yang mengiringi prosesi, diiringi lagu-lagu tradisional. Diterangkan oleh Charles Bonar Sirait, selaku MC pada acara pertunjukkan tradisional tersebut, prosesi semacam ini biasanya sudah dimodifikasi dan dipersingkat. Dalam prosesi adat semacam ini, terlihat betapa melepaskan anak dalam pernikahan adalah hal yang cukup penting. Lewat tari-tarian, prosesi, dan simbol-simbol, terlihat hal tersebut.

Tak ada salahnya untuk mengenal adat-adat yang ada di Indonesia. Seperti ungkap Diany Pranata Chandra, pimpinan umum acara pameran pernikahan Mahligai Megah Nusantara, “Kalau kita tidak menjaga dan memperkenalkan adat-adat tradisional ini sebagai milik kita, bisa-bisa diklaim oleh orang lain.”

 

Sumber: kompas.com